Haramnya Facebook

fakebook

This logo is for entertainment purpose only, no copyright infringement intended

Agak ngenes melihat dan mendengar berita tentang cerita ulama Jatim mengharamkan Facebook.  Pemikiran seperti ini sama saja dengan mengharamkan gelas karena bisa dipakai untuk meminum arak.

Kalau WC umum bau itu harus rajin dibersihkan dan dijaga kebersihannya bersama-sama bukannya terus dipasangin gembok.

Yang membuat saya agak kecewa dengan kinerja para ulama di Indonesia juga adalah saya sebagai umat yang ‘biasa-biasa’ sejauh ini selalu merasa kurang diayomi.  Idul Fitri saja bisa ada dua versi.  Cara baca ini baca itu ada banyak versi.  Mazhab (golongan) ini benar, golongan itu salah, dst.  Belum lagi kasus abon dan dendeng sapi mengandung daging babi kemarin.  Jadi kalau dipikir-pikir untuk menjadi tidak berdosa mungkin satu-satu nya jalan adalah dengan tidak berbuat apa-apa sepanjang hidup nya.  Jangan makan dan minum.  Jangan bernafas….

Ah, tapi hidup (waktu) itu adalah karunia dan amanat yang terlalu indah dan berharga untuk di tidak di apa-apa kan. Harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mungkin ada saatnya hidup ini jauh atau dekat dengan kebenaran, sampai pada saatnya Kebenaran hakiki akan menampakkan wujud Nya. Segala sesuatu akan selalu ada saatnya.

Akhirnya, saya hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa Agama ku adalah hanya untuk ku dan Khalik ku… tidak untuk para ulama ataupun siapapun.

path8004

hmm..

Menarik juga! Kabari yang lain...

  • email
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Yahoo! Bookmarks
  • del.icio.us
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Technorati

Tags:

Leave a Reply