Youghurt sehat? Pikir lagi…
Beberapa minggu yang lalu istri saya membeli satu pak es youghurt. Waktu dikonsumsi memang enak, ya youghurt aja gimana asem-asem plus rasa buah tertentu (yang kuning rasa durian, yang merah rasa anggur dsb). Tapi saya kok setiap beberapa saat setelah mengkonsumsi rasanya agak pening-pening dan merasa tidak nyaman di tenggorokan. Ternyata istri saya juga mengaku demikian. Tadinya saya pikir cuma karena mungkin es 'youghurt' ini menggunakan bahan perasa / essence yang tidak cocok dengan kondisi kesehatan kami atau karena kami sudah tidak cukup fit untuk mengkonsumsi es. Ya sudahlah, akhirnya setiap akan dikonsumsi, es youghurt ini saya cairkan dulu di gelas.
Pagi ini, di acara "Yang membeli yang tertipu" di TVOne saya melihat sendiri ternyata ada beredar 'youghurt' yang bukanlah susu masam hasil fermentasi tapi cuma semacam "adonan" yang terdiri dari :
- Susu Murni.
- Air.
- Terigu (untuk membuat air + susu menjadi koloid seperti youghurt).
- Asam sitrat yang cukup banyak. Di TV kalau tidak salah disebutkan dua bungkus.
- Pemanis buatan (saccharine) yang cukup banyak juga.
- Perasa / Essense cair bening.
- Pewarna "sepuh" (tekstil?) !!! Supaya warnanya menarik. Sesuai dengan perasa / essence, misalnya kuning untuk durian, merah untuk strawberi dsb.
- Pemutih!!! Di TV kelihatan bubuk, mungkin pemutih / bleach textil juga. Katanya sih supaya warnanya tidak terlalu 'ngejreng'.
Wuaduh! jangan-jangan yang saya konsumsi youghurt sejenis ini. Harus lebih hati-hati lagi memilih makanan / minuman. Pada awalnya saya sudah curiga / suudzhon pada es youghurt ini, soalnya kalau dihitung-hitung memang kemurahan untuk produk youghurt sih. Tadinya saya pikir mungkin youghurt nya encer atau bukan dari kualitas yang bagus - tapi kalau dibuat dengan resep seperti di atas sih, itu namanya racun. Gimana kalau setiap hari dikonsumsi anak-anak yang jajan di warung? Bisa jebol ginjal nya di usia remaja.
Memang sulit ya. Di satu pihak pengrajin / pengusaha kecil perlu keuntungan untuk bertahan dan ongkos hidup sehari-hari yang semakin hari semakin mahal, di lain pihak konsumen juga harus dijaga kepentingannya.
Kalau mengingat jaman waktu masih SD dulu (tahun 80 an), mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi kalau pembinaan di tingkat masyarakat sampai ke tingkat RT berjalan. Padahal seingat saya dulu kader-kader nya 'hanya' berstatus honorer. Kalau sekarang sih kayaknya pegawai negeri tambah banyak dan tambah makmur tapi malah kurang peduli pada keadaan masyarakat. Yang penting karir choy!!! Atau mungkin lebih tepat "Yang penting fulus choy!!!"








