Memanfaatkan Fasilitas Task pada Gmail
Para pengguna Gmail yang aktif (contohnya untuk kegiatan freelancing) tentunya pernah mengalami 'kelupaan' atau kehilangan jejak atas e-mail yang berisikan tugas atau pekerjaan yang harus diselesaikan. Biasanya, kalau malas untuk mencari dengan fasilitas search pada gmail kita atau sama sekali kehilangan jejak (sampai lupa kata kunci apa yang harus dipergunakan) akhirnya dengan terpaksa - atau kadang-kadang mungkin sudah biasa, kita memaksa client atau pemberi tugas tersebut untuk mengirim ulang. Selain tidak efisien, hal ini bisa merugikan kita sendiri karena akan memberikan kesan 'tidak profesional' pada diri kita.
OK, sebagian orang akan berpikir untuk menggunakan software organizer seperti MS Outlook yang merupakan bagian dari MS Office suite, atau software organizer lainnya. Tapi software tersebut bekerja pada local storage, artinya kalau kita sering menggunakan komputer mana saja yang ada (seperti saya) atau perlu mengantisipasi kemungkinan tersebut - maka semua task dan schedule yang telah dengan susah payah tertata dengan rapi akan tidak bisa diakses. Memang bisa sih di replikasi ke storage luar seperti pada MS Exchange server dsb. Tapi kayaknya sih terlalu merepotkan dan (tentunya) berbiaya tinggi.
Sebetulnya Google si raksaksasa internet multi manfaat telah menyediakan fitur Calendar dan Task sebagai salah satu layanannya. Fitur Task ini sendiri ternyata telah terintegrasi pada web interface gmail.
Untuk memanfaatkan fitur task ini, kita harus mengakses gmail melalui standard view (yang skinable), jadi bagi yang mengakses dengan basic html dan older version view tidak akan bisa.
Contohnya seperti gambar di bawah - maaf banyak sensor nya seperti JAV ... maklum rahasia dapur
Kalau kurang jelas di klik saja ya, nanti gambar yang lebih besar akan muncul.
Mengapa saya menjadi ‘freelancer’
Mungkin agak terlalu sombong kalau disebut 'freelancer'. Sebetulnya hanya bekerja (yang seharusnya) sambilan dari rumah. Seperti tukang jahit lepas yang menerima order jahit dari perorangan atau pabrik (makloon?) untuk dikerjakan dirumah, saya menerima pekerjaan lepas dari client sesuai dengan kapasitas saya dirumah. Karena saya cuma berpengalaman di dunia internet research, maka pekerjaannya pun tidak jauh dari hal tersebut. Bukan sebagai programmer, scripter, css-er ataupun pekerjaan high profile lainnya.
Kembali ke topik - kenapa saya menjadi freelancer. Kenapa ya? Mungkin bisa diuraikan seperti dibawah ini :
- Selepas PHK dari tempat kerja terakhir saya sebagai IT Technical Support, saya sudah terlalu tua untuk mencari pekerjaan formal lain. Selain itu, status pendidikan formal saya yang hanya lulus SMA menambah sulit suatu perusahaan untuk menerima saya sebagai karyawan. Hmmm... kayaknya terbalik prioritasnya 'kenapa' nya. Seharusnya poin ini adalah poin terakhir. Tapi gak apa-apa deh. Toh, ini yang alasan pertama melintas di benak saya. Mungkin karena sedang mendambakan gaji bulanan yang besar. Hehe.
- Sebetulnya alasan utama saya ber-freelance adalah: saya ingin terus bersama keluarga saya di rumah. Seorang istri yang (super) sabar dan dua orang anak laki-laki yang luar biasa. Saya ingin menghabiskan semua waktu saya menemani, membimbing dan menjaga amanat yang luar biasa ini. Tapi karena saya juga wajib untuk mencari nafkah, maka cara terbaik yang ada mungkin saat ini adalah ber-freelance.
- Bekerja dari rumah / ber-freelance tidak memerlukan mobilitas yang tinggi. Yang diperlukan hanyalah sebuah PC (Personal Computer) dan koneksi internet yang stabil. Kalau koneksi internetnya bisa cepat lebih baik lagi. Tidak perlu menghabiskan waktu di perjalanan, tidak perlu menghabiskan bahan bakar, ban, ataupun hal yang berhubungan dengan sarana transportasi. Jadi sebetulnya ber-freelance ikut membantu pemerintah dalam mengatasi masalah kemacetan dan berpartisipasi dalam penghematan bahan bakar dan pencegahan pemanasan global. Haha. Emang pemerintah mikirin yang beginian. Selain itu kalau kebetulan (dan kebanyakan, ah kayaknya sih semuanya deh) client kita adalah orang asing, apakah dari You Naited Setet ataupun negara lain manapun, maka secara tidak langsung kita telah membantu negara dalam penambahan devisa. Kan artinya kita bawa uang dari luar negeri. HAHA lagi. Emang pemerintah pernah peduli sama yang beginian.
- Selain itu, jam kerja nya pun tidak mengikat. Bisa jam berapa saja dan hari apa saja. Tidak perlu melihat kalender ataupun jam. Dan bisa dilakukan secara sambilan. Saya sering kalau kebetulan sedang ke pusat-pusat perbelanjaan melihat para penjaga toko waktu sedang tidak ada tamu / pembeli sering bengong ngobrol atau isi TTS. Mungkin kalau sekarang SMS an atau facebookan pakai hape ChinaBerry. Saya sering berkhayal, ah seandainya mereka tahu tentang dan mau ber freelancing dengan menggunakan netbook + mobile internet sambil nunggu toko, mungkin mereka akan lebih produktif dan akan bisa menabung untuk masa depan. Ah tapi cuma berkhayal saja.
Jadi, siapa yang mau ikutan jadi freelancer? Bisa coba lihat-lihat dulu di oDesk.com. Disana banyak sekali pekerjaan menanti. Ada terjemahan, web content, SEO, dan lain sebagainya. Yang gak ada itu pekerjaan ngabsen terus baca koran dan minum kopi. Haha!
Teratarik? Nanti saya bahas deh di artikel lainnya. Kalau sekarang harus kejar setoran dulu.
Sip!
Incoming search terms for the article:
Google Buzz… apaan sih?
Ternyata Google tidak mau kalah dengan situs-situs jarsos (jaringan saos sial - ups - maksudnya sosial) lainnya seperti Facebooook atau Tiwiter atau feature yang didapat dari Yahoo!.
Akhirnya Google sebagai salah satu perusahaan web dunia meluncurkan Google Buzz. Bagi yang sudah mempunyai account google misalnya gmail, bisa mencoba Buzz ini langsung dari interface web gmail anda.

Kalau di klik, maka akan muncul interface seperti Twitter dimana kita bisa melakukan 'update' status. Saya sendiri sampai saat ini belum bisa memanfaatkan feature 'update status' ini baik di facebook maupun tiwiter soalnya memang gak banyak hal penting sih di kehidupan saya untuk dijadikan update status.
Jadi, nambah satu lagi status untuk di update nih... hmmm...
Dan seperti biasa, status ini bisa di link ke photo (dengan Picasa sebagai image hosting nya) atau hanya link ke laman web lain.
Selain itu bisa juga buzz dihubungkan dengan Flickr, Twitter, Picasa web album, post di blog wordpress, post di blogger, self hosted blogs, dsb. Sepertinya sih google secara otomatis melakukan probing atas web yang ada kaitannya dengan google account kita. Soalnya beberapa blog saya yang menggunakan alamat email selain dengan account google tersebut tidak muncul. Cukup menarik. Jadi setiap aktifitas yang berkenaan dengan laman web tersebut bisa secara otomatis disertakan dalam buzz anda.
Nambah lagi nih mainan.
Incoming search terms for the article:
Ketika kamera error
Mungkin ada yang pernah ngalami juga, kamera digital saku nya setiap dihidupkan memunculkan pesan error seperti di bawah.
Jadi awalnya LCD menampakkan gambar seperti biasa, terus tidak lama kemudian error.
Setelah tanya-tanya sedikit ke mbah gugel dan korek-korek halaman fixya, akhirnya dapat sedikit info mengenai hal ini.
Ternyata error seperti ini tidak spesifik pada satu merek tertentu dengan pesan error spesifik seperti di atas (System Error 5001). Ternyata masalahnya adalah pada kamera digital saku yang memiliki mekanisme zooming optis (optical zoom), gigi pada mekanisme ini mengalami sedikit kemacetan sehingga dianggap error.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini tanpa perlu membongkar kamera. Salah satunya adalah :
- Pastikan batere kamera terisi penuh (untuk menjamin 'tenaga' motor servo zooming ring)
- Posisikan kamera pada keadaan mengadah, misalnya ke langit-langit.
- Hidupkan kamera sambil menekan tombol shutter.
Apa yang sebetulnya terjadi?
Pada saat dihidupkan, inisialisasi zooming ring akan dibarengi / dipaksa dengan motor auto fokus. Jadi dengan demikian diharapkan 'macet' pada gigi zooming ring bisa 'dipaksa' untuk lepas.
Pengalaman saya dengan metoda di atas, bisa berhasil untuk sementara sampai kamera macet kembali setelah dimatikan dan dimainkan zoom nya (maju mundur beberapa kali). Jadi menurut analisa saya, sepertinya zooming ring nya terlalu parah macetnya. Akhirnya dicoba untuk meneteskan dengan jumlah yang sangat terkendali dan secara sangat berhati-hati minyak mesin jahit pada sekitar zooming ring dengan kamera dalam keadaan mengadah. Sisa minyak harus segera dibersihkan dengan kertas tisu. Diharapkan minyak akan masuk ke gigi dan seal debu dari rumah lensa. Alhamdulillah, ternyata cara ini cukup efektif mengatasi masalah di atas. Untuk menghindari menetesnya minyak berlebih pada lensa atau bahkan sensor, kamera harus diletakkan dalam keadaan tertelungkup (lensa menghadap ke bawah) selama beberapa hari. Lalu hidupkan kamera dan periksa apakah masih ada sisa minyak pada tabung rumah lensa. Kalau sudah tidak ada, berarti kamera sudah cukup aman untuk digunakan kembali seperti biasa.
Artikel ini ditulis hanya untuk sekedar berbagi pengalaman, penulis tidak dapat bertanggung jawab atas kerusakan atau kerugian yang mungkin dapat terjadi akibat dari percobaan untuk mengikuti metoda di atas.
Ide dan ilmunya didapat dari sini
Incoming search terms for the article:
Kenapa sih nih speedy?
Bolak balik, perasaan jadi lambat sekarang. Coba balikin setingan DNS dari OpenDNS ke DNS nya speedy malah tambah kacrut. Masak Wikipedia aja gak bisa ke resolve. Padahal terakhir settingan DNS OpenDNS sudah dimasukin ke router. Jadi aja sementara mah setingan di PC aja dulu.
Hah ngeselin!
Ah parah nih.
Tapi ya gimana lagi, salah satu contoh korban ketidakmampuan untuk memilih karena memang tidak ada lagi pilihan lain (bahasa halusnya MONOPOLI).










