Kemarin saya sempat berbincang-bincan dengan teman lama yang menjalankan dua macam usaha. Sangat sedih saya mendengar ceritanya. Bukan karena kerugian material yang diderita teman saya, tapi lebih pada betapa tingkat kejujuran para pekerjanya yang sudah sedemikian rendah. Ah, mudah-mudahan ini hanya kebetulan saja teman saya yang sedang ‘apes’ punya karyawan yang tidak jujur. Mudah-mudahan bukan suatu gambaran umum mengenai keadaan kaum pekerja kita sekarang.
Ceritanya begini:
Sebagai salah satu pengusaha di bidang makanan, teman saya punya beberapa outlet yang dipercayakan kepada karyawannya. Karena memang sudah percaya dan tidak pernah ada pikiran negatif, maka teman saya jarang sekali datang untuk melakukan inspeksi di outlet tersebut. Pada suatu saat entah karena suatu hal, teman saya tersebut pergi mengunjungi dan ‘ikut’ menjaga outlet tersebut. Pada saat itu kebetulan datang salah satu pelanggan yang datang langsung memesan 10 porsi makanan dengan pesan khusus
“Sudah tidak usah pakai bon, asal didiskon saja. Sudah biasa begini kok.”
Teman saya hanya bisa senyum-senyum saja, nah lo ketahuan. Memang untuk bahan yang bisa dihitung bisa dengan mudah dibeli diluar, jadi karyawannya bisa saja dengan mudah menilap uang jualan. Padahal lumayan lho, satu porsi makanan yang dia jual paling tidak seharga 50 ribu rupiah!
Setelah itu ada juga cerita bagaimana karyawan di usaha produksi pakaian nya sering membuat laporan lembur fiktif. Hal ini diketahui setelah dia secara diam-diam memasang CCTV lengkap dengan perekamnya. Bisa dilihat pada saat laporan lembur sampai jam 23.00 malam, karyawannya jam 19.00 sudah beres-beres. Selain itu seringkali bahan pakaian yang seharusnya dijaga baik-baik berlubang bekas rokok. Sewaktu ditanya, tidak ada yang mengaku merokok, tapi pada rekaman CCTV jelas tampak bahwa mereka merokok sambil bekerja. Padahal selain kain yang mudah terbakar, karena produksinya adalah pekerjaan sablon – terdapat juga cairan reducer / thinner yang sangat mudah terbakar bahkan meledak. Sungguh sayang sekali kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan hanya karena ‘ingin merokok’.
Setelah dilakukan pembicaraan, ada indikasi didapat bahwa beberapa orang yang melakukan ke-tidakjujuran tersebut melakukannya karena terpaksa (katanya). Karena kalau tidak mau mengikuti, tidak enak kepada teman.
Selain itu, pernah juga katanya ada karyawan yang baru masuk tiga hari – langsung bisa menggasak uang teman-temannya sebanyak 600 ribu rupiah ditambah handphone.
Akhirnya, teman saya jadi disibukkan dengan urusan pengawasan. Teknologi diupayakan untuk bisa memberantas praktek kecurangan. Waktu dan tenaga mau tidak mau harus dikorbankan hanya karena manusia sudah tidak menjadi manusia lagi dengan membuang kejujurannya.
Kalau dipikir-pikir, memang semua orang perlu uang untuk hidup di jaman sekarang. Tapi kalau harus sampai mengorbankan kejujuran? Saya rasa sangat disayangkan sekali. Apakah memang karena dunia penuh dengan kesalahan berarti kita harus mengikuti kesalahan tersebut? Dimanakah integritas dan nilai-nilai kebaikan yang pernah ditanamkan oleh orang tua kita selama ini? Ataukah memang nilai-nilai kebaikan itu sudah berubah menjadi angka rupiah karena lebih mudah diukur?
Sepertinya kapitalisme sudah menang sebelum perlu bertempur di bumi Indonesia tercinta ini.