Archive for the ‘YadaYada’ Category

The world without walls

Sunday, April 25th, 2010

SANY1122

Memikirkan tembok di ujung jalan komplek. Baru ada beberapa bulan terakhir ini. Dulu tembok ini tidak ada. Dan saya masih berkeyakinan kalau tembok ini tidak seharusnya ada. Tembok inilah yang memisahkan “orang komplek” dengan “orang balong”. Tembok inilah yang memisahkan “si gajian” dan “si wirausaha”. Tembok ini juga yang memisahkan antara sang pendahulu dan sang pengikut.

Ah kenapa harus ada tembok ini. Dan tembok-tembok lainnya. Mengapa kita harus memisah-misahkan orang yang baik dan yang kurang baik. Yang punya dan yang kurang punya. Mengapa bukannya yang kurang baik dibuat agar lebih baik. Yang kurang punya diupayakan agar lebih punya. Dengan demikian, mungkin tidak pernah perlu ada tembok untuk memisahkan orang-orang.

Kecuali kalau blog ini disponsori oleh Pak Haji yang punya toko bahan bangunan didepan komplek.

Tired of this life

Thursday, April 22nd, 2010

Tired of this life
But you want to know what it’s like
Don’t you want to know what it’s like
Tomorrow night
Fireworks will fill the sky
Fireworks will fill the sky
And the air is so hot
Over the world below
Just long enough
Let your worry go, go
Let your worry go

Tired of your trying
But your eyes weren’t only made for crying
Your eyes were made for seeing things
Tomorrow brings a brand new blossoming
It’ll only make your heart sing
Like the birds so high
Over the world below
Just long enough
Let your worry go, go
Let your worry go

Tired of this life
But you want to know what it’s like
Don’t you want to know what it’s like

Tired Of This Life
Dawn Landes
Dawn’s Music

Ciri-ciri “Wanita Ahli Syurga”

Monday, April 19th, 2010

Gak sengaja nemu lembar ini waktu beres-beres dokumen di rumah.

Supaya gampang baca nya saya tuliskan lagi ya ;)

Ciri-Ciri “Wanita Ahli Syurga”

  • Ridho dengan suami yang telah dijodohkan oleh Alloh
  • Menjadi istri yang setia kepada suaminya dikala senang dan susah
  • Selalu memohon ma’af kepada suami
  • Senantiasa taat akan perintah suami selagi tidak bertentangan dengan syariat
  • Senantiasa mendahulukan suami dalam segala hal
  • Senantiasa menghibur hati suami terutama bila suami dalam kesusahan
  • Bila dipandang suami senantiasa menyenangkan
  • Melembutkan pandangan dan tunduk apabila dihadapan suami
  • Tidak pernah menolak bila disentuh suami kapanpun ia perlu
  • Tidak berkhianat terhadap harta, perkara, dan sebagainya tatkala suami tidak ada
  • Senantiasa hormat kepada suami dan ibubapak suaminya
  • Selalu mendo’akan keselamatan dan kesejahteraan untuk suami
  • Selalu bersih dan bersolek untuk membahagiakan suami bila dipandang
  • Tidak pernah menunjukkan wajah yang muram dan berlaku kasar terhadap suami
  • Menyambut pulangnya suami dengan senyuman dan mencium tangan suami
  • Tidak pernah keluar rumah tanpa izin suami

DSCF4280

Segala kebenaran hanyalah milik Allah, segala kesalahan adalah karena kebodohan saya dan pak lebe yang membuat lembaran ini….

Incoming search terms for the article:

Kejujuran – masih berhargakah?

Sunday, April 18th, 2010

Kemarin saya sempat berbincang-bincan dengan teman lama yang menjalankan dua macam usaha. Sangat sedih saya mendengar ceritanya. Bukan karena kerugian material yang diderita teman saya, tapi lebih pada betapa tingkat kejujuran para pekerjanya yang sudah sedemikian rendah. Ah, mudah-mudahan ini hanya kebetulan saja teman saya yang sedang ‘apes’ punya karyawan yang tidak jujur. Mudah-mudahan bukan suatu gambaran umum mengenai keadaan kaum pekerja kita sekarang.

Ceritanya begini:

Sebagai salah satu pengusaha di bidang makanan, teman saya punya beberapa outlet yang dipercayakan kepada karyawannya. Karena memang sudah percaya dan tidak pernah ada pikiran negatif, maka teman saya jarang sekali datang untuk melakukan inspeksi di outlet tersebut. Pada suatu saat entah karena suatu hal, teman saya tersebut pergi mengunjungi dan ‘ikut’ menjaga outlet tersebut. Pada saat itu kebetulan datang salah satu pelanggan yang datang langsung memesan 10 porsi makanan dengan pesan khusus

“Sudah tidak usah pakai bon, asal didiskon saja. Sudah biasa begini kok.”

Teman saya hanya bisa senyum-senyum saja, nah lo ketahuan. Memang untuk bahan yang bisa dihitung bisa dengan mudah dibeli diluar, jadi karyawannya bisa saja dengan mudah menilap uang jualan. Padahal lumayan lho, satu porsi makanan yang dia jual paling tidak seharga 50 ribu rupiah!

Setelah itu ada juga cerita bagaimana karyawan di usaha produksi pakaian nya sering membuat laporan lembur fiktif. Hal ini diketahui setelah dia secara diam-diam memasang CCTV lengkap dengan perekamnya. Bisa dilihat pada saat laporan lembur sampai jam 23.00 malam, karyawannya jam 19.00 sudah beres-beres. Selain itu seringkali bahan pakaian yang seharusnya dijaga baik-baik berlubang bekas rokok. Sewaktu ditanya, tidak ada yang mengaku merokok, tapi pada rekaman CCTV jelas tampak bahwa mereka merokok sambil bekerja. Padahal selain kain yang mudah terbakar, karena produksinya adalah pekerjaan sablon – terdapat juga cairan reducer / thinner yang sangat mudah terbakar bahkan meledak. Sungguh sayang sekali kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan hanya karena ‘ingin merokok’.

Setelah dilakukan pembicaraan, ada indikasi didapat bahwa beberapa orang yang melakukan ke-tidakjujuran tersebut melakukannya karena terpaksa (katanya). Karena kalau tidak mau mengikuti, tidak enak kepada teman.

Selain itu, pernah juga katanya ada karyawan yang baru masuk tiga hari – langsung bisa menggasak uang teman-temannya sebanyak 600 ribu rupiah ditambah handphone.

Akhirnya, teman saya jadi disibukkan dengan urusan pengawasan. Teknologi diupayakan untuk bisa memberantas praktek kecurangan. Waktu dan tenaga mau tidak mau harus dikorbankan hanya karena manusia sudah tidak menjadi manusia lagi dengan membuang kejujurannya.

Kalau dipikir-pikir, memang semua orang perlu uang untuk hidup di jaman sekarang. Tapi kalau harus sampai mengorbankan kejujuran? Saya rasa sangat disayangkan sekali. Apakah memang karena dunia penuh dengan kesalahan berarti kita harus mengikuti kesalahan tersebut? Dimanakah integritas dan nilai-nilai kebaikan yang pernah ditanamkan oleh orang tua kita selama ini? Ataukah memang nilai-nilai kebaikan itu sudah berubah menjadi angka rupiah karena lebih mudah diukur?

Sepertinya kapitalisme sudah menang sebelum perlu bertempur di bumi Indonesia tercinta ini.

Dijual Rumah Type 27 (Bandung – Cibiru)

Sunday, April 11th, 2010

Tampak Muka 1

Dijual rumah type 27 / 69 semi RS komplek Bumi Harapan Cibiru.  Lingkungan sudah penuh, jalan buntu / cul de sac.  Dekat Indomaret, masjid dan lapangan olahraga.  Luas tanah 69M2 (6MX11,5M), luas bangunan kl. 51M2 (6MX8.5M) + 21M2 (3.5MX6M) lantai 2.   Sudah renovasi, bagian belakang sudah full dak beton tertutup untuk jemuran & toren + satu kamar 3X3M di atas.

Master Bedroom, 1 Kamar tidur, 1 Kamar mandi, dapur.  Air sumur bor, jernih tapi belum pernah di periksa lab kelayakan minumnya (biasanya air untuk masak / minum beli lagi).

Carport cukup untuk mobil kecil, untuk mobil sedan / minibus agak nongol keluar pagar. (more…)

Incoming search terms for the article:

Becak Ghost Recon

Saturday, April 3rd, 2010

Tadi pas pulang ketemu sama becak full camo. Si bapak nya sudah lumayan berumur, kasihan juga kecapekan ngedorong becak.

beca ghost recon

SANY0014 (2)

Selamat berjuang pak! Apapun misi mu…

How I Became a Madman

Saturday, April 3rd, 2010

You ask me how I became a madman. It happened thus: One day, long before many gods were born, I woke from a deep sleep and found all my masks were stolen — the seven masks I have fashioned and worn in seven lives — I ran maskless through the crowded streets shouting, “Thieves, thieves, the cursed thieves.”
Men and women laughed at me and some ran to their houses in fear of me.
And when I reached the market place, a youth standing on a house-top cried, “He is a madman.” I looked up to behold him; the sun kissed my own naked face for the first time. For the first time the sun kissed my own naked face and my soul was inflamed with love for the sun, and I wanted my masks no more. And as if in a trance I cried, “Blessed, blessed are the thieves who stole my masks.”
Thus I became a madman.
And I have found both freedom and safety in my madness; the freedom of loneliness and the safety from being understood, for those who understand us enslave something in us.
But let me not be too proud of my safety. Even a Thief in a jail is safe from another thief.

(How I Became a Madman – Kahlil Gibran)

Helem SNI

Friday, April 2nd, 2010

Tadi waktu beli obat nyamuk di warung, tidak sengaja mendengar obrolan soal helem SNI. Menurut sang penyiar sambil ketawa ketiwi katanya menurut UU no. sekian kalau mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan helem yang memenuhi standar SNI bakalan dikenakan pidana denda Rp.250rb atau kurungan satu bulan.

Wadaw.

Terus terang saya sendiri belum mengerti, helem yang memenuhi standar SNI itu seperti apa. Sesudah googling dikit, eh ternyata ada juga artikel mengenai Helem SNI :

Help . . . Helm SNI Emboss Ku Gak Safety !!

Ayo Ganti Helm, Aturan Wajib SNI Sudah Berlaku | Republika Online

Pemaksaan Helm SNI,… bertentangan dengan HAM …???

Tapi sampai saat ini belum nemu tuh artikel yang secara masuk akal menjelaskan mengenai definisi helem SNI. Ada juga yang menjelaskan bahwa logo SNI nya harus emboss. Tapi tidak ada penjelasan teknis mengenai spesifikasi helem nya itu sendiri. Mungkin akan lebih bisa diterima kalau aturan ini dibuat dengan spesifikasi yang jelas misalnya :

  • Helem harus terdiri dari lapisan batok / shell dengan ketebalan minimum sekian mm.
  • Mempunyai lapisan dalam peredam benturan dengan ketebalan minimum sekian mm.
  • Menutup area paling sedikit sekian persen dari bagian kepala terutama bagian belakang.
  • Mempunyai tali pengikat yang dapat menahan beban minimum sekian KG.
  • dsb.dsb.

Dan yang penting disosialisasikan dengan baik.

Seperti biasa, kebijakan (mungkin lebih tepat disebut ‘pemaksaan’) dari para penguasa selalu ditanggapi secara pro dan kontra. Saya sendiri sih keberatan kalau harus beli lagi helem karena harus ada logo (emboss) SNI nya. Soalnya harganya cukup membuat saya menghela nafas.

Bayangkan saja – mungkin untuk sebuah helem “standar SNI” saya pasti harus merogoh kocek lebih dari Rp. 100rb rupiah. Padahal dulu waktu saya beli helem yang sekarang (karena helem yang terdahulu hilang ada yang ngambil di tempat parkir Carrefour Kircon), saya harus bolak balik nanya harga sama si mbak penunggu toko helem di Jl. Pungkur sampai-sampai si mbak nya terus melengos gak mau melayani. Akhirnya beli yang menurut saya paling pantas (soal safety & ukurannya – soalnya kepala saya cukup besar) dengan harga yang masih terjangkau. Waktu itu kalau tidak salah sekitar 50rb an.

Kalau pemakai sepeda motor rata-rata adalah pekerja dengan penghasilan menengah, anggap saja setara UMR Bandung = Rp. 1jt / bulan saya yakin kebijakan ini terlalu memberatkan. Kecuali kalau sifatnya sebagai himbauan. Atau mungkin pemerintah mau membuat helem nasional yang bisa dibagi-bagikan secara gratis atau paling tidak dijual dengan harga murah? Seperti dulu waktu penggalakan program KB dibangun pabrik kondom untuk memproduksi kondom murah (kalau tidak salah merek 25), terus konversi minyak tanah dengan membagi-bagikan kompor dan tabung gas? Kalau sampai bisa begitu – saya salut deh!!!

Incoming search terms for the article:

Renungan Bulan April

Friday, April 2nd, 2010

Ya Allah, mulai saat ini izinkan semua Tweet-ku, status FB ku, posting2 ku di blog maupun kaskus hanyalah untuk manfaat dan Ridho-Mu.

Nekat…

Thursday, April 1st, 2010

VCLP0008.MP4 snapshot 00.05 [2010.04.01 07.53

Kayaknya sih bawa rongsokan / limbah plastik. Ketemu di Jl. Papanggungan di daerah PINDAD.