Posts Tagged ‘Telkomsel Flash’

Dasar iklan…

Monday, October 26th, 2009

Lagi asik-asik nya melototin Forum Jual Beli di komunitas terbesar di Indonesia antara sadar dan tidak, beberapa kali mata saya terusik oleh kehadiran iklan yang berada di bagian header.  Iklan itu sendiri sih mengenai layanan koneksi internet atau semacamnya.

iklan-kaskus

yang cukup menarik perhatian saya adalah gaya tulisan “putus-putus” di iklan tersebut.  Hmmmm…. perasaan pernah lihat tulisan seperti itu.  Setelah dipikir-pikir ringan (ringan saja – kalau berat nanti bisa congested traffic .. hehehe) akhirnya ingat juga kalau gaya tulisan tersebut adalah milik si Pidi…

speedyTuh kan bener kan… hahaha… dasar iklan.

Tapi memang bener kok, saya pakai si pidi setelah mentalaktiga si toples (telkomsel flash) dan ternyata memang agak suka putus-putus.  Apalagi di musim gebyar diskon begini.

Mungkin karena settingan modem saya  – karena setting sendiri, gak mampu bayar teknisi yang katanya gratis padahal tetep harus keluar 25 rebu, atau karena modem nya enggak beli baru  – dapet nemu di sekolahan babeh, atau ah entah lah.

Mungkin nanti kalau sudah kekumpul cukup uang beli modem ADSL yang ada wireless nya sekalian supaya bisa browsing dimana aja asal dalam jangkauan modem.

Cuma kapan ya punya cukup uang…..  mudah-mudahan besok lusa … Amiiiin…..

Tapi tetep sih, perasaan sih masih mendingan si pidi.   Paling tidak kalau ada apa-apa ada beritanya di telkomspeedy.com.

Gak kaya si toples yang sombong sekali nurunin quota saja cuma dengan sosialisasi lewat sms.  Kalau ada gangguan juga enggak pernah minta maaf atau apa lah.

Kapaan ya oprator ‘negri’ bisa benar-benar ‘melayani’ konsumen nya…. deuh….  jangankan negri, swasta juga masih banyak yang enggak ngeh mengenai ‘kepuasan dan loyalitas konsumen’..

Yang penting budget tercapai, pemegang saham senang, sales manager enggak dipecat.  Peduli amat konsumen teriak-teriak soal kualitas atau apapun.  Peduli amat kalau angka sales yang dicapai itu pada hakekatnya tidak menyumbangkan pemasukan buat perusahaan, malah hanya jadi “marketing expenses”.   Coba bayangkan, sim card starter pack pra bayar dijual Rp. 2000 an.  Padahal kan kalau dihitung biaya produksi fisik nya saja tidak mungkin bisa ditekan sampai segitu.  Belum biaya infrastruktur yang ‘seharusnya’ dipersiapkan untuk per calon pelanggan.  Ah entah lah.  Capitalism at work!

Ah mungkin saya nya saja yang terlalu bodoh, enggak ngerti konsep pemasaran dan bisnis jaman sekarang…..

Planning Plin Plan Telkomsel Flash

Thursday, October 8th, 2009

Hari ini dapat lagi SMS dari CS nya TSEL Flash :

Pelanggan Yth. Sbg wujud apresiasi kami terhadap pelanggan TELKOMSELFlash, selama 1 bulan (Tgl 1 s/d 31 Okt 09), Fair Use Paket TELKOMSELFlash Unlimited anda kembali ke kuota semula yaitu 2 GB. Setelah tgl tsb Fair Use Paket anda kembali ke kondisi existing.Terimakasih
Time: 08/10/2009 11:48:19

Halah… apa sih.  Kemarin tiba-tiba nurunin quota dari 2GB ke 500MB dengan sosialisasi cuma lewat SMS.  Terus sekarang (mungkin karena banyak pelanggan yang pada kabur, termasuk saya walaupun dari kemarin baru niat) tiba-tiba ada “apresiasi” seperti ini.  Benar-benar perusahaan yang “hebat” marketing plan nya.

Teguhkan niat, kuatkan tekad.  Mungkin Indonesia memang belum saatnya menikmati “kemerdekaan” (unlimited).

Telkomsel Flash – semakin dekat semakin nyata (pembodohannya)

Tuesday, September 8th, 2009

Pelanggan Yth. Terhitung mulai tgl 1 Sep 09, Fair Usage untuk Paket Basic TELKOMSELFlash Unlimited berubah dari 2GB menjadi 500 MB. Terima kasih.

Demikian isi SMS yang diterima tanggal 7 Sept 09 kemarin.  Sebagai informasi, sebelumnya fair usage dari Telkomsel Flash unlimited basic adalah 2GB.  Tiba-tiba dengan seenaknya diturunkan ke 500MB hanya dengan pemberitahuan sebuah SMS.  Tanpa press conference atau paling tidak halaman news update di situs Telkomsel flash.  Tanpa penjelasan mengapa kebijakan ini harus diambil.

Benar-benar, saya sangat kecewa dengan sikap Telkomsel.  Telkomsel benar-benar tidak pernah menghargai pelanggan setia nya.  Mengenai perubahan aturan, saya bisa terima.  Tapi tanpa komunikasi yang jelas, tanpa penjelasan kenapa nya… hmmm… perasaan saya mah kok tidak professional ya?

Apakah ada skenario “cross sales” antara Flash dengan Sipidi?  Jadi biarkan pelanggan  Flash kecewa supaya pindah ke Speedy?  Nanti kalau Speedy sudah network overload atau target penjualan tercapai, pingpong balik lagi ke Flash dengan program “gebyar” lainnya?  Entahlah.

Memang konsumen mah cuma bisa ngahelas… (mengeluh dalam hati)

Telkomsel Flash semakin dekat dan semakin nyata (lambatnya)

Thursday, July 9th, 2009

Ampuuun… Telkomsel Flash semakin kesini kok semaikin lambat saja.  Rata-rata cuma bisa dapet 2-5kbps downstream nya.  Padahal sudah ngebela-belain gotongan komputer & meja nya ke kamar ‘nyamuk’  di lantai jemuran biar dapet pol sinyalnya.  Biasanya sih kondisi sinyal 1-2 strip saja masih bisa dapet 15kbps an, kalau di lantai jemuran alias di atas genteng sih bisa dapet 30kbps an.

Apakah mungkin :
Jumlah konsumen sudah tidak dibatasi, tidak sesuai dengan kapasitas jaringan – yang penting jumlah subscriber dulu, masalah kepuasan nomor seratus.  Sepertinya karena sudah jenuh dengan perang tarif antar operator, ada tendensi bahwa operator hanya mengandalkan keuntungan dari paket perdana atau keuntungan dari jumlah konsumen yang mendaftar.  Jadi dari subscriber fee nya sih persetan, mau gak puas ya pindah saja ke provider lain, nanti saya bikin program lain lagi supaya kamu pindah lagi dan saya getok lagi kamu di biaya instalasi atau administrasi atau pendafataran atau apa lah.  Contohnya, si mbok atau si mas-mas yang tiap minggu beli perdana karena ada paket ini atau paket itu.  Kalau dihitung-hitung mungkin operator sih masih untung jualan perdana karena ‘mulung muntah’ konsumen yang tidak puas atau merasa tertipu (tapi secara hukum tidak tertipu karena konsument tidak pernah dilindungi secara hukum di sini mah).  Akibat dari kondisi ini, operator sih mungkin bisa bertahan / untung tapi ini secara global merupakan pemborosan dan mengarah pada perilaku non produktif – konsumeris.

Perilaku konsumen yang tidak “bandwidth-friendly”.Banyak konsumen yang karena menggunakan paket ‘unlimited’ akhirnya memanfaatkan layanan secara kurang atau bahkan tidak bijaksana.  Dipakai untuk download filem atau lagu yang setelah selesai di download belum tentu di tonton atau didengarkan.  Seharusnya paling tidak operator mensosialisasikan kampanye ‘internet sehat’ atau cara berinternet yang benar (secara teknis maupun sosial) sebagai salah satu bentuk Corporate Social Responsibility bagi pelanggannya.

Liburan sekolah dan PilPres? Mungkin juga, karena anak-anak sekolah sedang liburan – akhirnya traffic internet menjadi relatif lebih padat.  Bahkan pada jam-jam yang biasanya ‘lowong’.  Selain itu, saya perhatikan juga sewaktu Pemilu Legislatif (dan mungkin akan berlaku di PilPres juga) akses internet menjadi sangat sulit dilakukan dan kalaupun bisa lamban sekali.  Mungkinkah KPU atau lembaga-lembaga yang melakukan “QuickCount” me’makan’ bandwidth internet lebih dari seharusnya?

Semua kemungkinan di atas tidak wajib dijawab, yang menjadi perhatian saya sebagai seorang ‘cyberbum’ alias gembel dunia maya yang mengais rejeki di dan dari internet, akses internet yang stabil dan bisa diandalkan adalah suatu hal yang mutlak diperlukan.  Tanpa itu, nanti saya gak bisa nyari nafkah dong …  so please deh Telkomsel!